Mahasiswa dan Tukang Kayu

Tampak tiga orang anak muda duduk berdesakan di bangku panjang menghadap sebuah meja kecil. Di depannya seorang lelaki paruh baya kebingungan menghadapi pertanyaan pertanyaan yang dilontarkan anak anak itu.
“Jadi indikator pertumbuhannya itu apa Pak”, tanya seorang dari mereka.
Pak Tua hanya diam tak menjawab.
“Pesenan daun pintuku sudah selesai Pak”, tanyaku memotong pembicaraan mereka. Tiga anak muda itu tampak jengkel dengan tindakan ku, tapi masa bodolah dengan mereka.
“Sudah Mas, cuma kurang satu sama ada satu lagi yang kudu diperbaiki”, terangnya sambil menghampiriku.
“Ya kalo kurang artinya ya belum jadi, piye toh”, aku menimpali.
“Ya kan bentar lagi jadi Mas”, sanggahnya.
“Yang satu rusak kenapa?”, Tanyaku lagi.
“Ini kurang rapet, jadi ada celahnya”, terang si tukang.
“Ini sih kayunya susut Pak, kayu jelek gini di pake”, aku menyindir.
“Kayu bagus ini Mas, mbok jaminan”, terang pak tukang.
“Bagus kok susut”, bantahku lagi.
“Lak yo menyesuaikan dana toh Boss”, sanggahnya sambil tersenyum kecut.
“Jendela jendelanya juga dah selesai”, tanyaku lagi.
“Pokoknya siap Mas”, jawab pak tukang lagi.
“Pintunya lima ya pak”, tanyaku lagi memastikan.
“Tiga mas, sama satu lagi pintu sepasang”, terangnya.
“O iya, bisa dikirim kapan”, tanyaku lagi sambil berjalan keluar.
“Kalo itu tanya ke juragan saya, sini cuma anak buah”, jawabnya.
Perlahan lahan kami meninggalkan bengkel dan sudah berada di pinggir jalan, sementara kendaraan berlalu lalang.
“Kalo mau ngobrol sama juragannya, orangnya di sana”, terang pak tukang.
Memang si juragan berada di bengkel yg berada di seberang jalan, di situ biasanya dia menjamu tamu dan client client nya.
“Anak anak itu siapa pak”, tanyaku pelan mengalihkan topik.
“Mahasiswa KKN Mas”, terangnya.
“Oh, tak kirain surveyor BPS”, kataku.
“Ya sudah pak, aku mau ngobrol sama juragannya”, aku pun berpamitan.
“Yo mas, monggo”, kata pak tukang.
Segera aku memalingkan badan, tapi sebelum melangkahkan kaki ada sesuatu yang mengganjal pikiranku.
“Pak, sini tak kasih tahu”, aku memanggil pak tukang.
Pak tukang segera datang menghampiriku.
Aku pun mengucapkan sesuatu hal dengan pelan, khawatir terdengar orang lain.
“Siap Mas”, kata pak tukang sambil berlalu masuk kembali ke bengkel.
Belum juga aku sempat berjalan menyeberangi jalan, kudengar pak tukang berbicara dengan keras kepada tamu tamu mahasiswanya.
“Kata Masnya tadi, kalian itu kalo ngomong mbokya pake bahasa yg gampang di mengerti. Jangan pake kata kata yg rumit “.

“Asyem, malah bilang kalo aku lagi”, kataku dalam hati sambil menyeberang jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s