Antara Bus, Kereta api, Truk, Rumah Makan dan Popmie

Dulu ketika di atas kereta api masih ada pedagang asongan, soal makan dalam perjalanan bukanlah persoalan yang serius. Para pedagang datang dan menawarkan makanan minuman hingga jajanan dengan harga yg bersahabat. Banyak pilihan dan kita tinggal pilih, mana yg ingin kita santap. Bahkan jika harus pesan di restorasi, ada menu yg cukup bersahabat dan akrab di lidah semacam indom**e rebus. Meski dengan harga dibawah 10rb tapi lumayan komplit dengan telur dan suwiran daging ayam. Yang lebih utama menu tersebut dimasak saat ada pesanan. Tidak serperti nasi gorengnya yg dimasak dulu lalu disimpan di dalam magic com. Hingga sering mendapat sebutan nasi goreng abadi oleh para penumpang kereta.
Kini dengan dilarangnya pedagang asongan beroperasi di atas kereta pilihan penumpang menjadi sangat terbatas. Membeli masakan di restorasi yg rasanya pas pasan dengan harga yg cukup fantastis atau membawa bekal sendiri. Memang di beberapa stasiun masih terdapat warung makan yg beroperasi tapi untuk turun dari kereta dan memesan makalan lalu membungkusnya pun perlu waktu, sementara kereta jarang berhenti lama.

Dilema juga terjadi jika saya menumpang bus walaupun sangat jarang saya menggunakan moda yg satu ini untuk bepergian jarak jauh. Sudah menjadi rahasia umum jika PO PO bekerja sama dengan rumah makan yg dilalui trayeknya. Pada jarak tertentu bus bus tersebut akan berhenti di RM yg sudah menjadi partner mereka. Bagi para sopir/awak bus itu hanyalah pemberhentian rutin dan terjadwal. Mereka akan turun dan makan di area yg khusus disediakan untuk mereka sementara para penumpang juga akan turun dan mengambil makanan yg disediakan untuk mereka. Di sinilah yg sering menjadi dilema, sementara para sopir dan awak bus mendapat perlakuan istimewa dan hidangan istimewa, kami para penumpang seringkali mendapat hidangan yg ala kadarnya. Pernah saya mendapati hanya nasi(yg wujudnya mirip nasi goreng) dengan tumis labu siam dan sepotong ayam sebesar jempol kaki yg lebih banyak tulangnya dari pada dagingnya yg alot. Itupun harus saya tebus dengan harga diatas 10rb. Soal rasa tentu jangan ditanya, bahkan untuk ukuran saya yg tidak terlalu pilih pilih makanan dan tidak terlalu jijikan, hal itu cukup bikin saya gentar. Pernah pula bus yg saya bawa berhenti di suatu RM di daerah jalur selatan Jawa. Menunya sih sepertinya menggiurkan dan harus saya tebus dengan harga yg relatif mahal saat itu tapi ya itu, begitu saya memakannya perlu usaha ekstra untuk membuat makanan itu tidak kembali keluar dari kerongkongan saya. Edan, bahkan secara insting otak saya memberi signal kepada organ pencernaan saya untuk memuntahkannya. Saya tidak bisa apa apa selain meletakan sendok dan garpu lalu menegak teh hangat yg juga berasa ala kadarnya. Pilihan akhirnya kembali kepada popm**e dan roti sobek.

Memang ada rahasia umum bahwa banyak RM langganan bus yg sering menyediakan menu yg ala kadarnya untuk penumpang. Penumpang tidak bisa berbuat banyak karena sudah ada kerjasama antara PO dan RM. Sementara para sopir dan awak merasa semuanya baik baik saja(paling tidak bagi mereka) karena mereka mendapat perlakuan istimewa.

Tapi kita memang harus mengambil pelajaran dalam setiap perjalanan. Paling tidak jika hendak naik bus bawalah bekal yg cukup karena kita tidak tahu, di RM yg seperti apa kita akan berhenti makan. Peejalanan naik bus juga menjadi ingatan jika berkendara dgn kendaraan pribadi atau carteran, jangan makan di RM langganan PO, walaupun kita tidak bisa memastikan rasa hidangannya tapi sangat mungkin di tempat itu banyak orang sedang antri makan. Akhirnya pengalaman juga yg memberi petunjuk untuk mampir makan ditempat para sopir truk beristirahat. Karena RM langganan supir truk menyediakan menu yang relatif lebih enak dan murah dari pada langganan PO. Sudah jadi rahasia umum jika RM mematok harga terlalu mahal dan rasa yg mengecewakan maka para sopir truk akan kompak mencari tempat lain. Memang ada peribahasa yg cukup kondang yg ditujukan buat para sopir/awak truk “mangan koyo ratu, turu koyo asu”. Makan layaknya raja, tidur bagaikan anjing.
Tapi ya jika uang sakunya tidak mepet mepet amat ya makan ditempat yg agak mahal dikit macam sola**a atau rumah makan lain bisa jadi opsi. Dari pada mengambil resiko parkir diantara truk truk kargo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s