Jebakan Betmen

“Kepareng matur Pakdhe, sowan kulo sak keluarga mriki sepindah silaturahim ….” Perwakilan rombongan keluarga jauuuuh menjabat tangan Bapakku, menghaturkan salam sungkem takzim. Sesuatu yang sudah menjadi tradisi saat Hari Raya Eid tiba. Rangkaian kata kata dalam Basa Krama meluncur deras kadang lirih sesekali terdengar jelas. Intinya sih sama di mana mana, mohon maaf dan minta doa. Beda bahasa dan tata cara doang. Sejurus kemudian Bapak giliran menjawab atur salam tersebut lalu memberikan wejangan wejangan berdasarkan pengalaman hidupnya. Tentu saja sesuai prespektif dengan persoalan persoalan yang dihadapi baik secara “present, past maupun future tense”. Seperti yang sering kali ku dengar, ada yang relevan, perlu penyesuaian maupun kuno alias ketinggalan jaman. Di sela sela wejangannya, Bapak bilang “snacknya silahkan dimakan, biar afdhol”.

Tentu saja hal ini hanya basa basi, karena tanpa dikomando pun bocah bocah sudah mulai bergerilya membuka kaleng biskuit dan toples. Kabar baiknya mereka tidak perlu khawatir dengan kaleng Kong Guan berisi Rengginang. Karena meskipun punya seplastik rengginang mentah, Simbok males menggorengnya. “Boros minyak”, katanya.
Jaman memang sudah berubah, suguhan hari raya jaman ku sangat berbeda dengan saat ini. Jika dulu peyek kacang, bolumprit, untir-untir, beberapa jenis jenang adalah menu umum, sekarang suguhan tersebut nyaris hilang digantikan kue kue bikinan pabrik dan pastry dadakan yang buka selama bulan puasa.

Sebenarnya Simbok juga tidak perlu terlalu ribet mengadakan suguhan lebaran tersebut, karena sebelum hari raya, mantu,ponakan ponakan dan bulik bulik berkunjung sambil ninggali biskuit dan makanan makanan tersebut. Namun Simbok juga tetep belanja di pasar sekedar membeli beberapa snack tambahan biar variatif dan beberapa dus minuman kemasan ber sakarine. Bahkan dua hari menjelang Hari Raya, Simbok sempat menyuruhku membeli sekaleng biskuit yang legendaris itu. Biskuit yang selalu menjadi pergunjingan bahkan sejak Jokowi belum lulus dari UGA (Universitas Gaj Ahmada). Apalagi kalau bukan biskuit dengan gambar keluarga tanpa sosok ayah itu. Bagi yang simpatik mungkin akan mengira itu anak yatim. Sedankan yang apatis mungkin akan mengira itu anak anak jaddah. Saya sih mengiranya bapaknya lagi bikin sketsa.

Terang saja permintaan Simbok ku tolak, berkaleng kaleng biskuit sudah memenuhi lemari. Belum lagi beberapa botol sirup yang biasanya tidak habis sampai sebulan lebih setelah lebaran. Sekaleng Kong Guan tidak akan berpengaruh lagi.

Diantara snack snack simbok itu kulihat sekantong snack yang sudah tidak asing lagi. Snack berupa kerupuk kecil kecil dengan taburan bubuk cabe berwarna itu memang menarik untuk dilihat dan mengundang rasa penasaran untuk mencicipi. Saya sendiri sempat melarang Simbok untuk menyuguhkan snack tersebut, tapi apa daya Simbok tetep bersikeras dengan keputusannya.

Tak lama setelah sungkeman dan segera setelah Bapak mempersilahkan untuk mencicipi snack barisan toples toples itu diserbu. Dan seperti dugaan ku seorang bocah membuka toples berisi kerupuk pedas itu. Diambilnya beberapa keping dan segera ia melahapnya.
“Beh.. pedes”, katanya setengah berteriak.
Segera diambilnya segelas teh kemasan dan meminumnya sampai habis. Setelah itu dia mengambil aqua gelas dan meminumnya. Bocah bocah lain tertawa setengah menghina dan mereka mencobanya. Kejadian yang sama terulang seorang mengambil dua gelas minuman untuk sekeping kerupuk pedas itu. Para tamu yang lebih tua ikut tertawa dan akhirnya mencoba dan kejadian yang sama berulang kembali.

“Iki krupuk opo tah, kok pedes ngene?”, Tanya seorang tamu.
“Krupuk campur balsem”, jawabku sambil ketawa.
Di hari pertama saja kerupuk itu sudah banyak makan korban.
Tak lama kemudian saudara sepupuku datang. Dan kali ini korbannya adalah anak anaknya. Kejadiannya sama, satu lahapan diobati dua gelas aqua.

Simbok sepertinya menyadari kesalahannya lalu mengambil toples berisi kerupuk pedas itu. Snack itu akhirnya pindah ke rak meja di bawah tivi. Lebaran hari kedua dan ke tiga relatif aman. Masalah kembali datang di lebaran hari ke empat ketika Budhe datang sekeluarga. Karena Budhe biasa bludas bludus di rumah, Budhe menemukan toples berisi kerupuk itu dan membawanya ke ruang tamu. Ditaruhnya di meja lalu diambil sekeping kerupuk, tak ada satupun yang berusaha memperingatkannya.

“Beh…. Iki panganan opo, kok pedes banget?”, Teriaknya.
Pakdhe tertawa setengah mengejek, “halah, ngunu wae kepedesen”.
Diambilnya sekeping kerupuk lalu Pakdhe memakannya. Segera Pakdhe terbatuk batuk, “beeh, pedes banget!”.
Kedua cucunya yang ikut ikutan mencoba mengalami nasib yang sama.
Alhasil, setoples kerupuk itu belum terlihat berkurang sementara aqua gelas sudah kadung habis.

Kerupuk yang bernasib naas itu akhirnya dijauhi, hanya sedikit yang sudah terambil para tamu. Namun karena simbok bukan tipe orang yang mudah membuang makanan maka ditaruhlah toples berisi kerupuk yang nyaris utuh di rak meja bagian bawah televisi. Simbok sepertinya tahu, hanya akulah orang di rumah yang doyan makan makanan pedas. Dia tahu bahwa sedikit demi sedikit tangan dan mulutku pada akhirnya akan melahap habis kerupuk yang dijauhi itu. Dan simbok tidak keliru, tidak sampai seminggu setelah toples kerupuk itu ditaruh di rak, isinya sudah habis dan tinggal remah remah semata.
“Ya kalo makanan dah habis itu toples nya disingkirin lalu dicuci”, ujar simbok setengah merengut sembari memandangi toples yang sudah kosong itu.
“Duh….., Jebakan betmen”, ujarku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s